Modul 1:Pembelajaran Orang Dewasa

Gambaran umum

Kompetensi Dasar

Menguasai cara melaksanakan pembelajaran orang dewasa

Indikator

  1. Menjelaskan prinsip pembelajaran orang dewasa

  2. Menganalisis karakteristik pembelajaran orang dewasa

  3. Mengidentifikasi strategi, metode pembelajaran atau teknik yang digunakan dalam pembelajaran orang dewasa

  4. Mengevaluasi pembelajaran orang dewasa

Materi

Pembelajaran Orang Dewasa

  1. Prinsip pembelajaran orang dewasa

  2. Karakteristik pembelajaran orang dewasa

  3. Startegi, metode, atau teknik pembelajaran orang dewasa

  4. Evaluasi pembelajaran orang dewasa

Kegiatan Pembelajaran

1. Pembukaan dan informasi lokakarya

Waktu: 10 menit Material: Slide PPT Aktivitas:

  1. Fasilitator mengucapkan selamat datang di pelatihan dan doa pembukaan

  2. Informasi tata tertib pelatihan

  3. Fasilitator menjelaskan topik dan tujuan sesi satu

2. Sesi Tanya Jawab tentang Karakteristik Pembelajaran Orang Dewasa

Waktu: 25 menit Material: Slide PPT Aktivitas:

  1. Fasilitator mengajukan pertanyaan tentang pengertian ciri orang dewasa

  2. Fasilitator menjelaskan pengertian pembelajaran orang dewasa

  3. Fasilitator mengajukan pertanyaan karakteristik dan prinsip pembelajaran orang dewasa.

** 3. Diskusi Kelompok: Strategi Pembelajaran Orang Dewasa**

Waktu: 25 menit Material: Kertas Plano Aktivitas:

  1. Fasilitator mengajak peserta untuk berhitung 1 sampai 4 satu demi satu dan membaginya menjadi 4 kelompok. Mereka menyebutkan bentuk nomor yang sama satu kelompok.

  2. Setiap kelompok memilih ketua kelompok dan sekretaris

  3. Ketua kelompok memimpin diskusi strategi pembelajaran orang dewasa dan hasil diskusinya dituliskan pada kertas plano oleh sekretaris.

4. Presentasi Kelompok

Waktu: 20 menit Material: Slide PPT/Kertas Plano Aktivitas:

  1. Fasilitator meminta seluruh ketua kelompok maju ke depan dan melakukan undian. Kelompok yang paling kalah menjadi presenter.

  2. Fasilitator meminta kelompok lain untuk mengajukan pertanyaan atau komentar kepada kelompok presenter; Fasilitator memfasilitasi tanya-jawab

  3. Fasilitator melengkapi strategi pembelajaran orang dewasa yang belum disebutkan.

5. Diskusi Berpasangan

Waktu: 20 menit Material: Kertas HVS Aktivitas:

  1. Fasilitator meminta peserta untuk berpasangan

  2. Setiap pasangan diminta mendiskusikan bagaimana sebaiknya mengevaluasi orang dewasa (evaluasi pembelajaran orang dewasa)

  3. Hasil diskusi pasangan dipajang di depan kelas

  4. Dengan menggunakan musik sebagai latar belakang, fasilitator memilih acak dengan melempar bola kecil ke peserta, peserta yang menerima bola diminta melemparkan ke kelompok lain. Ketika musik berhenti, kelompok dari peserta yang menerima bola menjadi presenter

  5. Fasilitator meminta kelompok lain untuk mengajukan pertanyaan atau komentar kepada kelompok presenter. Fasilitator memfasilitasi tanya-jawab

  6. Fasilitator melengkapi penjelasan tentang evaluasi pembelajaran orang dewasa

6. Refleksi dan Penutupan

Waktu: 5 menit Material: - Aktivitas:

Fasilitator meminta salah satu peserta untuk melakukan refleksi pelaksanaan sesi pertama.

Bahan Bacaan

Pengantar

Peserta pelatihan/diklat Pengembangan Skenario untuk Rencana Kontijensi dengan menggunakan OpenStreetMap (OSM) dan QGIS/InaSafe adalah orang dewasa. Mereka memiliki karakteristik belajar yang khas dan berbeda dengan anak-anak. Untuk itu pelatih perlu mempelajari karakteristik belajar orang dewasa. Pemahaman terhadap karakteristik belajar orang dewasa ini diperlukan untuk dapat memilih strategi pelatihan yang sesuai dan efektif bagi peserta pelatihan.

Pembelajaran atau Pendidikan Orang Dewasa dikenal dengan istilah Andragogi, sebagai lawan dari pedagogi (pendidikan anak-anak). Andragogi berasal dari bahasa latin Andro yang berarti orang dewasa (Adult) dan agogos yang berarti memimpin atau membimbing. Jadi andragogi adalah ilmu bagaimana memimpin atau membimbing orang dewasa atau ilmu mengajar orang dewasa.

Pada dasarnya, pendidikan adalah proses memfasilitasi seseorang untuk mencari dan menemukan ilmu pengetahuan yang dibutuhkan dalam kehidupan melalui proses belajar, sehingga semua kegiatan manusia memiliki potensi yang dipergunakan untuk belajar. Andragogi menstimulasi orang dewasa agar mampu melakukan proses pencarian dan penemuan ilmu pengetahuan yang mereka butuhkan dalam kehidupan. Belajar orang dewasa dilakukan secara berlanjut dari pengalaman kehidupan.

1. Karakteristik belajar orang dewasa

Pendidikan orang dewasa adalah suatu usaha yang ditujukan untuk pengembangan diri yang dilakukan oleh individu tanpa paksaan legal, tanpa usaha menjadikan bidang utama kegiatannya (Reeves, Fansler, dan Houle dalam Supriyanto, 2007). Menurut UNESCO (Townsend Coles 1977 dalam Lanundi (1982), Pendidikan orang dewasa adalah keseluruhan proses pendidikan yang diorganisasikan apa pun isi, tingkatan, metodenya, baik formal atau tidak, yang melanjutkan maupun menggantikan pendidikan semula di sekolah, akademi dan universitas serta latihan kerja, yang membuat orang yang dianggap dewasa oleh masyarakat mengembangkan kemampuannya, memperkarya pengetahuannya, meningkatkan kualifikasi teknis atau profesuonalnya, dan mengakibatkan perubahan pada sikap dan perilakunya dalam perspektif rangkap perkembangan pribadi secara utuh dan partisipasi dalam pengembangan sosial, ekonomi, dan budaya yang seimbang dan bebas. Sedangkan menurut Bryson dalam Supriyanto (2007) Pendidikan orang dewasa adalah semua aktivitas pendidikan yang dilakukan oleh orang dewasa dalam kehidupan sehari-hari yang hanya menggunakan sebagian waktu dan tenaganya untuk mendapatkan tambahan itelektual.

Definisi di atas menunjukkan bahwa:
  • Orang dewasa memiliki kemampuan mengarahkan diri sendiri.

  • Orang dewasa memiliki beragam pengalaman,

  • Orang dewasa dipersiapkan untuk belajar sebagai konsekuensi dari posisi mereka dalam transisi pembangunan,

  • Orang dewasa lebih menyenangi belajar yang bersifat problem-centered atau performance-centered.

  • Karakteristik belajar orang dewasa dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Orang dewasa memiliki kemampuan mengarahkan diri sendiri.

  2. Orang dewasa mepunyai pengalaman yang banyak dan fungsi pengalaman bagi orang dewasa sebagai sumber belajar.

  3. Orang dewasa siap mempelajari sesuatu yang ia perlukan dan pengalaman terbangun dari pemecahan masalah atau menyelesaikan tugas sehari-hari.

  4. Orientasi belajar: Pendidikan merupakan suatu proses pengembangan kemampuan diri, ilmu dan keterampilan akan diterapkan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, orientasi belajar terpusat pada kegiatan

Ciri-ciri belajar orang dewasa menurut Soedomo (1989) dalam Supriyadi (2007) adalah:

  1. Memungkinkan timbulnya pertukaran pendapat, tuntutan, dan nilai-nilai

  2. Memungkinkan terjadinya komunikasi timbal balik

  3. Suasana belajar yang diharapkan adalah suasana yang menyenangkan dan menantang

  4. Mengutamakan peran peserta didik

  5. Orang dewasa akan belajar jika pendapatnya dihormati

  6. Belajar orang dewasa bersifat unik

  7. Perlu adanya saling percaya antara pembimbing dan peserta didik

  8. Orang dewasa umumnya mempunyai pendapat yang berbeda

  9. Orang dewasa memiliki kecerdasan yang beragam

  10. Kemungkinan terjadinya berbagai cara belajar

  11. Orang dewasa belajar ingin mengetahui kelebihan dan kekurangannya

  12. Orientasi belakar orang dewasa terpusat pada kehidupan nyata

  13. Motivasi dari dirinya sendiri

Karakteristik belajar orang dewasa dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Orang dewasa belajar karena adanya tuntutan tugas, tuntutan perkembangan atau keinginan peningkatan peran. Berbeda dengan anak-anak yang cenderung menerima materi pelajaran yang disampaikan oleh guru, orang dewasa akan belajar manakala pembelajaran ini dapat memenuhi tuntutan tugas, tuntutan perkembangan, dan tuntutan akibat peningkatan peran. Karenanya dalam pembelajaran orang dewasa perlu dijelaskan kaitan antara materi dengan tuntutan tugas, peran, dan tuntutan perkembangan mereka.

  2. Orang dewasa suka mempelajari sesuatu yang praktis, dapat langsung diterapkan, dan bermanfaat dalam kehidupannya. Orang dewasa kebanyakan telah kaya dengan pengetahuan-pengetahuan teoritis. Karenanya materi pelatihan orang dewasa sebaiknya dipilih yang praktis dan dapat diterapkan dalam kehidupannya.

  3. Orang dewasa dalam proses belajar ingin diperlakukan sebagai orang dewasa/dihargai

  4. Orang dewasa kaya pengalaman dan berwawasan luas, mempelajari sesuatu yang baru berdasar pengalamannya. Setiap orang dewasa umumnya memiliki pengalaman yang sangat luas utamanya dalam bidang yang ditekuninya. Sebaiknya cara mempelajari sesuatu yang baru dimulai dari pengalaman-pengalaman mereka.

  5. Orang dewasa belajar dengan cara berbagi pendapat bersama orang lain. Karena mereka kaya pengalaman, berbagi pendapat merupakan salah satu cara efektif mereka dalam belajar.

  6. Orang dewasa mempertanyakan mengapa harus mempelajari sesuatu sebelum mereka mempelajari sesuatu. Jika anak-anak cenderung menerima topik pembelajaran, orang dewasa perlu mengetahui bahwa hal-hal yang mereka pelajari merupakan hal yang bermanfaat langsung bagi mereka.

  7. Orang dewasa belajar dengan memecahkan masalah tidak berorientasi pada bahan pelajaran Jika hal yang dipelajari dalam pelatihan dapat memecahkan masalah yang dialami, maka mereka akan belajar dengan baik.

  8. Orang dewasa menyukai suasana pembelajaran yang membangkitkan kepercayaan diri. Hal ini berkaitan dengan keinginan untuk dihargai. Mulailah pembelajaran dengan hal-hal yang mudah sehingga kepercayaan diri mereka meningkat.

  9. Orang dewasa memerlukan waktu yang lebih panjang dalam belajar karena perlu memvalidasi informasi baru. Orang dewasa tidak sekedar menerima informasi melainkan memvalidasi informasi berdasarkan pengalaman-pengalaman mereka.

  10. Orang dewasa akan melanjutkan proses belajar jika pengalaman belajar yang dilaluinya memuaskan.

Perbedaan Pedagogi dan andragog

Aspek

Pedagogi

Andragogi

Konsep tentang diri peserta didik

Bersifat tergantung

Memiliki kemampuan mengarahkan diri sendiri

Fungsi pengalaman peserta didik

  1. Pengalaman sedikit

  2. Pengalaman sebagai titik awal untuk membangun pengalaman

  1. Pengalaman banyak

  2. Pengalaman sebagai sumber belajar

Kesiapan Belajar

  1. Diseragamkan berdasarkan usia

  2. Diorganisasi dalam suatu kurikulum

  1. Siap mempelajari sesuatu yang ia perlukan

  2. Berdasarkan dari pemecahan masalah atau menyelesaikan tugas sehari-hari

Orientasi belajar

  1. Pendidikan merupakan suatu proses penyampaian ilmu pengetahuan.

  2. Ilmu tersebut baru bermanfaat di kemudian hari

  3. Orientasi belajar ke arah mata pelajaran

  1. Pendidikan merupakan suatu proses pengembangan kemampuan diri

  2. Ilmu dan keterampilan akan diterapkan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik

  3. Orientasi belajar terpusat pada kegiatan

2.Prinsip Pembelajaran Orang Dewasa

Pendidikan orang dewasa memiliki prinsip yang membedakannya dengan jenis pendidikan yang lain. Prinsip pendidikan orang dewasa tersebut, dapat menciptakan suasana pembelajaran yang efektif dan efisien. Prinsip tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

  1. Prinsip kemitraan: Prinsip kemitraan menjamin terjalinnya kemitraan di antara fasilitator dan peserta. Dengan demikian peserta tidak diperlakuan sebagai siswa tetapi sebagai mitra belajar sehingga hubungan yang mereka bangun bukanlah hubungan yang bersifat memerintah, tetapi hubungan yang bersifat membantu, yaitu pengajar akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu proses belajar peserta pelatihan.

  2. Prinsip pengalaman nyata: Prinsip pengalaman nyata menjamin berlangsungnya kegiatan pembelajaran pendidikan orang dewasa terjadi dalam situasi kehidupan yang nyata. Kegiatan pembelajaran pendidikan orang dewasa tidak berlangsung di kelas atau situasi yang simulatif, tetapi pada situasi yang sebenarnya.

  3. Prinsip kebersamaan: Prinsip kebersamaan menuntut digunakannya kelompok dalam kegiatan pembelajaran pendidikan orang dewasa untuk menjamin adanya interaksi yang maksimal di antara peserta dengan difasilitasi fasilitator.

  4. Prinsip partisipasi: Prinsip partisipasi adalah untuk mendorong keterlibatan peserta secara maksimal dalam kegiatan pembelajaran orang dewasa, dengan fasilitas dari peserta. Dalam kegiatan pembelajaran pendidikan orang dewasa semua peserta harus terlibat atau mengambil bagian secara aktif dari seluruh proses pembelajaran mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran.

  5. Prinsip kemandirian: Prinsip ini mendorong peserta untuk memiliki kebebasan dalam mencari tujuan pembelajaran. Pembelajaran orang dewasa berusaha untuk menghasilkan manusia independen mampu memainkan peran subjek atau aktor, kebutuhan untuk prinsip kemandirian.

  6. Prinsip kesinambungan: Prinsip yang menjamin adanya kesinambungan dari materi yang dipelajari sekarang dengan materi yang telah dipelajari di masa yang lalu dan dengan materi yang akan dipelajari di waktu yang akan datang. Dengan prinsip ini maka akan terwujud konsep pendidikan seumur hidup dalam pendidikan orang dewasa.

  7. Prinsip manfaat: Prinsip manfaat menjamin bahwa apa yang dipelajari dalam pendidikan orang dewasa adalah sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan oleh peserta. Orang dewasa akan siap untuk belajar manakala dia menyadari adanya kebutuhan yang harus dipenuhi. Kesadaran terhadap kebutuhan ini mendorong timbulnya minat untuk belajar, dan karena rasa tanggung jawabnya sebagai orang dewasa maka timbul kesiapan untuk belajar.

  8. Prinsip kesiapan: Prinsip kesiapan menjamin kesiapan mental maupun kesiapan fisik dari peserta untuk dapat melakukan kegiatan pembelajaran. Orang dewasa tidak akan dapat melakukan kegiatan pembelajaran manakala dirinya belum siap untuk melakukannya, apakah itu karena belum siap (fisiknya atau belum siap mentalnya).

  9. Prinsip lokalitas: Prinsip lokalitas menjamin adanya materi yang dipelajari bersifat spesifik local. Generalisasi dari hasil pembelajaran dalam pendidikan orang dewasa akan sulit dilakukan. Hasil pendidikan orang dewasa pada umumnya merupakan kemampuan yang spesifik yang akan dipergunakan untuk memecahkan masalah peserta pada tempat mereka masing-masing, pada saat sekarang juga. Kemampuan tersebut tidak dapat diberlakukan secara umum menjadi suatu teori, dalil, atau prinsip yang dapat diterapkan dimana saja, dan kapan saja. Hasil pembelajaran sakarang mungkin sudah tidak dapat lagi dipergunakan untuk memecahkan masalah yang sama dua atau tiga tahun mendatang. Demikian pula hasil pembelajaran tersebut tidak dapat diaplikasikan dimana saja, tetapi harus diaplikasikan di tempat peserta sendiri karena hasil pembelajaran tersebut diproses dari pengalaman-pengalaman yang dimiliki oleh peserta.

  10. Prinsip keterpaduan: Prinsip keterpaduan menjamin adanya integrasi atau keterpaduan materi pendidikan orang dewasa. Rencana pembelajaran dalam pendidikan orang dewasa harus meng-cover materi-materi yang sifatnya terintegrasi menjadi suatu kesatuan materi yang utuh, tidak partial atau terpisah-pisah.

3.Strategi Pembelajaran Orang Dewasa

Pemilihan strategi pembelajaran ditentukan berdasarkan tujuan yang akan dicapai. Berdasarkan tujuan yang akan dicapai ada dua strategi belajar, yaitu: (a) Strategi belajar yang dirancang untuk membantu orang membantu menata pengalaman masa lampau yang dimilikinya dengan cara baru proses penataan pengalaman/penataan kembali, dan (b) strategi belajar yang dirancang untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan baru (proses perluasan pengalaman).

  1. Proses penataan pengalaman/penataan kembali: Strategi ini diperuntukkan bagi peserta pelatihan yang sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang apa yang akan dilatihkan. Untuk itu peran fasilitator disini membantu peserta untuk membuat generalisasi dengan memancing pegalaman yang sudah dimiliki dan memberi umpan balik. Sedangkan peserta harus berperan banyak untuk mengungkapkan data mengenai pengalaan dan pendapatnya, menganalisa pengalamannya, menggali alternatif dan manfaatnya. Hal ini akan terjadi apabila ada suasana yang bebas dari ancaman, rasa kebutuhan dari peserta untuk menemukan pendekatan baru dalam mengatasi masalah lamanya.

  2. Proses perluasan pengalaman: Strategi ini diperuntukkan bagi peserta pelatihan yang belum memiliki pengetahuan atau keterampilan tentang apa yang akan dilatihkan. Peran fasilitator disini adalah memberikan data dan konsep yang baru, sedangkan peran peserta pelatihan adalah memperoleh data dan konsep baru, mempraktikkannya. Dalam hal ini diperlukan kejelasan penyajian baru dan memotivasi peserta untuk mengetahui relevansi bahan baru tersebut dalam kehidupan.

Berdasarkan tujuan di atas diketahui bahwa dalam pembelajaran orang dewasa ada dua tujuan dalam pembelajaran, yaitu bagi yang sudah mempunyai pengetahuan dan belum. Tetapi perlu diingat orang dewasa telah memiliki bebrapa karakteristik yang perlu diperhatikan dalam menetapkan strategi pembelajarannya. Berdasarkan karakteristik orang dewasa, maka strategi yang efektif untuk pembelajaran orang dewasa. Secara umum pembelajaran orang dewasa diharapkan menggunakan pembelajaran partisipatif, yaitu keterlibatan atau peran serta peserta pelatihan dan pengaturan lainnya yang menyangkut materi pelatihan, waktu penyelenggaraan, dan lain sebagainya. Pada prinsipnya pada pembelajaran partisipatif fasilitator tidak menggurui dan selalu berceramah, tetapi selalu melibatkan peserta dalam kegiatan. Strategi yang dimaksud antara lain sebagai berikut.

a. Pembelajaran yang praktis dan berpusat pada masalah

Salah satu karakteristik orang dewasa adalah orang dewasa belajar dengan memecahkan masalah tidak berorientasi pada bahan pelajaran. Jika hal yang dipelajari dalam pelatihan dapat memecahkan masalah yang dialami, maka mereka akan belajar dengan baik. Untuk itu, strategi yang digunakan dalam pembelajaran adalah sebagai berikut: Sebelum pembelajaran dimulai, fasilitator harus mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan dan masalah mereka. Selanjutnya pembelajaran sebaiknya dimulai dengan mengidentifikasi masalah-masalah otentik yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita perlu memperkenalkan teori atau informasi baru, yakinkan bahwa semuanya dikaitkan dengan masalah yang dihadapi dan contoh-contoh nyata. Dalam pemecahan masalah ini metode yang bisa digunakan antara lain tanyajawab, diskusi. Diskusi dalam rangka memecahkan masalah terdiri dari beberapa tahap, yaitu:

  1. Anggota kelompok sadar akan adanya masalah

  2. Anggota secara individu mencari dugaan untuk memecahkan masalah sementara

  3. Anggota kelompok mencari fakta atau pengalamannya untuk mendukung dugaannya.

  4. Mendiskusikan dengan anggota kelompok atas pemecahan masalah

  5. Membuat kesimpulan diskusi dalam memecahkan masalah.

Berkaitan dengan sesuatu yang praktis, dalam pembelajaran orang dewasa diperlukan praktik lapang. Materi harus dipraktikkan untuk kepentingan praktis yang akan diterapkan. Rangkaian metode yang cocok digunakan antara lain demonstrasi, simulasi dan praktik. Misalnya untuk mencapai kompetensi Menggunakan GPS untuk menambah data di OSM, tidak ada artinya kalau peserta hanya mengetahui dan paham tentang penggunaan GPS untuk menambahkan data OSM, tetapi perlu didemonstasikan oleh fasilitator dan disimulasikan oleh sebagai peserta dan dipraktikkan oleh semua peserta. Yang perlu dipraktikkan dalam kompetensi tersebut antara lain menyalakan GPS dan melakukan pengaturan GPS saat pertama kali.

b. Orang dewasa menyukai pembelajaran yang mengintegrasikan informasi baru dengan pengalaman-pengalaman mereka:

Dalam pembelajaran orang dewasa ada dua hal, yaitu proses penataan pengalaman/penataan kembali dan proses perluasan pengalaman, untuk itu pembelajaran orang dewasa haruslah membantu mereka mengungkapkan pengalaman-pengalaman mereka untuk mempelajari hal-hal yang baru. Pembelajaran kelompok kooperatif juga dapat membantu mereka untuk berbagi pendapat dengan peserta yang lain. Selanjutnya kita perlu membantu mereka dalam memahami informasi yang baru. Metode yang sesuai diantaranya dengan tanyajawab dan diskusi. Misalnya dalam mengajarkan materi “Pengoperasian OSM”, sebaiknya fasilitator tidak memberi ceramah tentang:

  1. Cara mengunjungi situs OpenStreetMap

  2. Cara menavigasi Peta,

  3. Cara menyimpan Gambar dari Peta OSM

  4. Cara membuat Akun OpenStreetMap

  5. Editing Peta OSM

tetapi fasilitator perlu menggali seberapa jauh pengalaman mereka atau pengetahuan mereka tentang materi tersebut dengan tanyajawab. Setelah itu bisa didiskusikan untuk memecahkan masalah kesulitan peserta terhadap materi tersebut, selanjutnya fasilitator dapat memberikan tambahan materi yang dirasa belum diketahui oleh peserta dengan selalu menghubungkan dengan pengetahuan dan pengalaman yang mereka miliki sebelumnya.

c. Orang dewasa menyukai pembelajaran yang meningkatkan harga diri mereka

Agar orang dewasa percaya diri, kita dapat memulai dengan hal-hal yang sederhana dengan tingkat kegagalan yang kecil. Selanjutnya pembelajaran semakin meningkat seiring dengan kepercayaan diri mereka. Misalnya, ketika mengajarkan pengoperasian JOSM, diketahui peserta belum begitu lancar dengan internet, maka dapat memulai dengan praktek-praktek keterampilan yang ringan misalnya melakukan download JOSM dengan cara berpasangan, yang sudah bisa mengajarkan kepada yang belum bisa dan dilanjutkan dengan mengerjakan secara individu. Hal ini dimaksudkan agar tidak memberikan beban yang berat di awal pelatihan. Begitu selanjutnya untuk belajar langkah lain dari pengoperasian JOSM. Yang penting disini, peserta tidak boleh dipermalukan karena kekurangan mereka terhadap pengoperasian internet.

d. Orang dewasa menyukai pembelajaran yang menunjukkan perhatian secara individual

Ketahuilah kebutuhan-kebutuhan mereka, penuhi kebutuhan individual seperti rehat, makan, minum dan sebagainya. Ajak mereka merencanakan target-target dan bantulah mencapai target tersebut. Jangan segan pula untuk meminta masukan-masukan dari mereka baik secara tertulis, dalam sesi-sesi maupun secara informal di luar sesi pelatihan. Mereka suka jika minat-minat pribadi mereka diperhatikan.

Keberhasilan strategi belajar orang dewasa perlu didukung dengan suasan belajar yang kondusif. Suasana belajar yang kondusif bagi orang dewasa menurut Suprijanto (2007) adalah

  1. Mendorong peserta didik untuk aktif dan mengembangkan bakat

  2. Suasana saling menghormati dan saling menghargai

  3. Suasana saling percaya dan terbuka

  4. Suasana penemuan diri

  5. Suasana tidak mengancam

  6. Suasana mengakui kekhasan pribadi

  7. Suasana memperbolehkan perbedaan, berbuat salah, dan keraguan

  8. Memungkinkan peserta belajar sesuai dengan minat, perhatian, dan sumber daya lingkungannya

  9. Memungkinkan peserta mengakui dan mengkaji kelemahan dan kekuatan pribadi, kelompok, dan masyarakatnya

  10. Memungkinkannya peserta tumbuh sesuai dengan nilai dan norma yang ada di masyarakat

4. Evaluasi Pendidikan Orang Dewasa

Evaluasi atau penilaian adalah suatu kegiatan untuk menetapkan seberapa jauh program pembelajaran dapat diimplementasikan sesuai harapan. Dengan demikian penilaian atau evaluasi difokuskan pada kegiatan untuk menentukan seberapa jauh keberhasilan program (mikro: fasilitator, makro: lembaga). Menurut Fajar, A., (2002), penilaian dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk memperoleh berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil belajar, pertumbuhan serta perkembangan sikap dan perilaku yang dicapai peserta. Pengetian di atas menunjukkan bahwa evaluasi dilakukan selama program pelatihan, tidak dilakukan di akhir pelatihan saja. Evaluasi merupakan suatu proses untuk menggambarkan perubahan dari diri peserta setelah pelatihan. Proses memberi arti bahwa evaluasi dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan, dengan cara tertentu sehingga mendapat hasil sesuai yang diharapkan. Di sana juga digambarkan bahwa dalam penilaian dilakukan dengan mengumpulkan kenyataan secara sistematis. Hal ini memperlihatkan bahwa di dalam evaluasi diperlukan pengambilan data atau disebut pengukuran.

Teknik, metode atau alat evaluasi adalah segala macam cara atau prosedur yang ditempuh untuk memperoleh keterangan-keterangan atau data-data yang dipergunakan sebagai bahan untuk mengadakan penilaian. Dengan demikian teknik ini sangat mempengaruhi hasil yang akan diperoleh. Pada dasarnya teknik atau metode penilaian dapat dibedakan menjadi dua, yaitu teknik atau metode tes dan teknik atau metode non tes. Pada aspek kognitif dapat digunakan soal-soal tes, (baik lisan ataupun tertulis). Diharapkan aspek ini dapat meningkatkan aspek afektif peserta pelatihan. Aspek afektif dapat dilakukan melalui observasi dan kuesioner, dan aspek psikomotorik dapat dinilai melalui kegiatan dan hasil yang dicapai.

Teori evaluasi di atas sebenarnya sama antara pedagogi dan andragogi, hanya saja cara mengevaluasinya yang berbeda. Dalam pendidikan orang dewasa metode evaluasinya harus mencerminkan kebebasan, artinya evaluasinya harus datang dari yang belajar dan bukan dipaksakan dari luar. Pengertian di atas menunjukkan bahwa orang dewasa harus dapat menilai dirinya sendiri. Sehingga istilah “ujian” atau tes bagi orang dewasa lebih tepat digunakan istilah uji diri. Contoh metode evaluasi yang cocok untuk orang dewasa adalah sebagai berikut.

  1. Umpan balik: Setiap peserta diberi kesempatan untuk mengemukakan pikiran dan perasaan mengenai pelajaran yang baru berlangsung.

  2. Refleksi: Peserta diberi kesempatan untuk mengungkapkan refleksinya. Refleksi bersifat subjektif yang khas pribadi, sehingga tidak perlu ditanggapi oleh fasilitator.

  3. Diskusi kelompok: Peserta diberi kesempatan untuk mendiskusikan hasil evaluasi masing-masing dan menuangkannya dalam sebuah laporan.

  4. Questionnaire: Penilaian dengan disiapkan formulir pertanyaan yang telah disiapkan dan diisi oleh peserta pelatihan.

  5. Tim pengelola: Diantara peserta dibentuk sebuah tim yang terdiri dari moderator, pencatat, dan evaluator. Tim ini bertugas untuk membuat laporan singkat padat dan menyusun evaluasi dari acara seharian.

Cara di atas dapat dibantu degan Penilaian Unjuk Kerja/Performance. Penilaian Unjuk Kerja mengamati kegiatan peserta dalam melakukan sesuatu. Penilaian ini cocok digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta melakukan tugas tertentu seperti: praktek dan simulasi. Penilaian unjuk kerja perlu mempertimbangkan hal-hal berikut:

  • Langkah-langkah kinerja yang diharapkan dilakukan peserta untuk menunjukkan kinerja dari suatu kompetensi.

  • Kelengkapan dan ketepatan aspek yang akan dinilai dalam kinerja tersebut.

  • Kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas.

  • Upayakan kemampuan yang akan dinilai tidak terlalu banyak, sehingga semua dapat diamati.

  • Kemampuan yang akan dinilai diurutkan berdasarkan urutan pengamatan.

Teknik Penilaian Unjuk Kerja

Pengamatan unjuk kerja perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Untuk mengamati unjuk kerja peserta dapat menggunakan alat atau instrumen berikut:

  1. Daftar Cek / Check-list

Penilaian unjuk kerja dapat dilakukan dengan menggunakan daftar cek (ya-tidak). Penilaian unjuk kerja yang menggunakan daftar cek, peserta mendapat nilai bila kriteria penguasaan kompetensi tertentu dapat diamati oleh penilai. Jika tidak dapat diamati, peserta tidak memperoleh nilai. Kelemahan cara ini adalah penilai hanya mempunyai dua pilihan mutlak, misalnya benar-salah, dapat diamati-tidak dapat diamati. Dengan demikian tidak terdapat nilai tengah, namun daftar cek lebih praktis digunakan mengamati subjek dalam jumlah besar. Berikut contoh daftar cek.

Contoh checklists

No.

Aspek yang dinilai

Baik

Tidak baik

     
     
     

Skor yang dicapai

 

Skor Maksimum

 
  1. Skala Penilaian / Rating Scale

Penilaian unjuk kerja yang menggunakan skala penilaian memungkinkan penilai memberi nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu, karena pemberian nilai secara kontinum di mana pilihan kategori nilai lebih dari dua. Skala penilaian terentang dari tidak sempurna sampai sangat sempurna. Misalnya: 1 = tidak kompeten, 2 = cukup kompeten, 3 = kompeten dan 4 = sangat kompeten. Berikut contoh skala penilaian.

Skala Penilaian

No.

Aspek yang dinilai

Nilai

    1 2 3 4
         
         
         

Skor yang dicapai

 

Skor Maksimum

9

Keterangan penilaian:

1 = Tidak kompeten 2 = Cukup kompeten 3 = Kompeten 4 = Sangat kompeten

Jika seorang peserta memperoleh skor 16 dapat ditetapkan ”sangat kompeten”. Dan seterusnya sesuai dengan jumlah skor perolehan. Penilaian unjuk kerja ini apabila dilakukan di persekolahan bisa diisi oleh guru, tetapi untuk pembelajaran orang dewasa dapat diisi fasilitator bersama-sama dengan peserta. Dan isian tersebut sebagai bahan untuk didiskusikan atau pencatatan oleh tim pengelola.

Daftar Bacaan

Budimansyah, D. 2002. Model Pembelajaran dan Penilaian Portofolio.
Bandung: Genesindo.
Degeng, N.S. 2003. Evaluasi Pembelajaran. Makalah disampaikan dalam acara TOT
AA dan Pekerti dosen Kopertis Wilayah VII tanggal 15-21 Juni 2003.

Lanandi, A.G. 1982. Pendidikan Orang Dewasa. Jakarta: PT Gramedia.

Mc. Tighe, JU and Ferrara (1995). Assessing learning in the classroom.
Website: ttp://www.msd. net/Assessment/authenticassessment. html.
Phopham, W. James, 1995. Classroom Assessment: What Teachers Need to Know,
United States of America, Allyn & Bacon – Simon & Scuster Company.
Supriyanto. 2007. Pendidikan Orang Dewasa (Dari Teori Hingga Aplikasi),
Banjarbaru: Bumi Aksara

Zainudin. 1986. Andragogi. Bandung: Penerbit Angkasa

Padmowihardjo, S. (2006). Pendidikan Orang Dewasa. Jakarta: Universitas Terbuka.

http://ippamaradhi.multiply.com/journal/item/102/10-Prinsip-Pendidikan-Orang-Dewasa